KUMPULAN BERBAGAI CONTOH STEEL

Diculik Penghuni Kali Akar



Oleh: Syamsul Lesmana
Kali Akar merupakan bagian dari Way Belahu, sungai yang mengalir membelah Kota Telukbetung Bandar Lampung. Penduduk menyebutnya Kali Akar karena di sekitar aliran sungai itu banyak ditumbuhi pohon perdu yang akarnya muncul di permukaan air. Ada juga akar yang menjuntai seperti tali ayunan. Akar-akar sebesar paha orang dewasa itu sangat disenangi anak-anak. Mereka biasa berdiri di atas akar itu lalu terjun ke sungai.
Sebagian orang mengatakan tempat itu angker. Memang jarang sekali tempat itu dikunjungi orang. Mereka datang ke tempat itu hanya pada saat-saat tertentu saja, seperti menjelang bulan puasa. Biasanya mereka datang untuk mandi keramas. Praktis, pada hari-hari biasa sungai itu hanya ramai oleh anak-anak setempat yang berenang.
Sore itu hujan turun lebat sekali. Tetapi sekelompok anak-anak Kampung Pakuon yang sedang bermain bola belum juga mau berhenti. Hujan justru membuat mereka tambah bersemangat bermain sehingga tanpa terasa hari sudah mulai gelap. Usai bermain bola, mereka lantas berlari menuju Kali Akar dan sambil bersorak mereka pun terjun ke sungai itu. Setelah badannya bersih dari lumpur, mereka lantas pulang ke rumah masing-masing.
Namaun ada yang aneh di sore itu. Mahyudin yang biasa dipanggil Udin, tidak tampak di antara mereka. Padahal tadi Udin bermain dan mandi di sungai bersama anak-anak itu. Ketika Rohayah, ibunya Udin bertanya, anak-anak hanya menjawab Udin masih mandi di sungai. Rohayah sedikit lega mendengar jawaban itu karena sudah menjadi kebiasaan Udin selalu pulang terlambat.
Namaun ketika adzan Magrib terdengar dan Udin belum juga pulang, Rohayah mulai was-was. Kemana anak itu? Tanya Rohayah dalam hati. Ia kemudian memanggil Badar, kakak Udin, yang sedang menonton televisi.
“Badar, coba kamu susul adikmu,” perintah Rohayah.
“ Susul kemana, Bu?” kata Badar balik bertanya tanpa melepas pandangannya daripesawat TV.
“Kata temannya tadi dia mandi di Kali Akar.”
Dengan agak malas, Badar beranjak dari tempat duduknya. Kakinya diseret menuju Kali Akar yang letaknya tidak terlalu jauh dariu rumahnya. Tiba di Kali Akar, Badar tidak melihat adiknya. Situasi di sekitar Kali Akar sangat sepi. Badar sempat beberapa kali memanggil nama adiknya. namun tidak ada sahutan.  Badar pun mencoba menyusuri aliran sungai itu sambil terus memanggil-manggil Udin tetapi tetap saja tidak menemukan adiknya. Badar akhirnya pulang dengan tangan hampa.
“Udin tidak ada di Kali Akar,” lapor Badar pada ibunya.
Perasaan Rohayah semakin tidak menentu. Firasatnya mengatakan telah terjadi sesuatu pada anak itu. “Coba cari ke musola. Siapa tahu dari sungai tadi dia langsung ke musola untuk mengaji.”
“Bu, ini maslam Jumat. Tidak ada anak-anak yang mengaji,” sahut Badar. Ustadz Ali memang meliburkan santrinya setiap malam Jumat.
“Kalau begitu coba cari ke rumah Pakde Miran. Mungkin saja Udin ke sana,” perintah Rohayah. Kini suaranya mulai bergetar karena rasa was-was. Sementara Kardi, suami Rohayah, juga sudah sibuk mencari kemana-mana.
Tanpa banyak Tanya, Badar langsung berlari ke rumah Pakde Miran. Perasaannya mulai ikut cemas memikirkan berbagai kemungkinan buruk menimpa adiknya. Benar saja, Udin tidak ada di rumah Pakde Miran. Badar langsung pulang dan memberitahukan hal itu pada ibunya.
Sontak keluarga Udin dilanda kecemasan yang luar biasa. Terlebih usai adzan Isya, Udin juga belum ditemukan. Kabar itu segera menyebar sehingga para tetangga dan teman-teman Udin ikut mencari anak itu. Mereka menyusuri sungi karena mulai muncul dugaan Udin hanyut terbawa arus Kali Akar. Apalagi sore itu hujan turun sangat deras. Meski Udin bisa berenang, namun  belum terlalu mahir sehingga jika kemungkinan saja terseret arus karena hujan turun sejak sore sehingga aliran Kali Akar mendadak sangat deras.
Namun karena suasana gelap dan hujan tambah deras, mereka pun menghentikan pencariannya. Dari kasak-kusuk mulailah muncul dugaan jika Udin telah dibawa oleh Kalongwewe, makhluk halus yang gemar mencuri anak-anak untuk dijadikan anaknya. Terlebih Kali Akar selama ini sebenarnya juga dikenal angker karena sudah pernah beberapa kali menelan korban jiwa.
Sepanjang malam Rohayah menangis memikirkan nasib Udin. Esoknya, seluruh warga di Kampung Pakuon ikut beramai-ramai mencari Udin di sepanjang aliran Kali Akar hingga ke muara. Ada juga yang berenang dan menyelami bagian-bagian terdalam di sungai itu. Bahkan ada yang mencarinya hingga ke sungai Belahu. Tetapi semua usaha sia-sia saja. Udin tidak juga ditemukan.
“Mungkin Udin sudah tewas dan mayatnya hanyut hingga ke laut,” ujar salah seorang tetangga dengan nada berbisik karena tidak ingin melukai perasaan Rohayah.
“Mungkin saja. Kali begitu kita cari sampai ke laut,” timpal rekannya.
Mereka pun lantas mencari Udin ke Teluk Lampung dengan dibantu nelayan setempat. Hanya saja hingga sore hari, sosok Udin belum ditemukan. Para nelayan yang pulang melaut juga tidak ada yang melihat ada sosok mayat di daerah Teluk Lampung.
Selain melaporkan kasus hilangnya Udin ke polisi, Kardi juga menemui Mbah Rekso, orang pintar yang tinggal tidak jauh dari Pakuon. Menurut Mbah Rekso, Udin diculik. Namun Kardi tidak mempercayainya. Apa motif penculiknya? Saya tidak punya musuh. Kalau minta tebusan, juga tidak mungkin karena saya tidak memiliki harta. Pasti mereka salah sasaran, kata Kardi dalam hati.
Sampai 5 hari kemudian, Udin belum juga ditemukan. Jika dia sudah meninggal, pasti mayatnya akan mengambang sehingga dapat ditemukan. Begitu juga kalau diculik, pasti penculiknya sudah menghubunginya untuk meminta uang tebusan. Ataukah mungkin diculik dan dibawa ke kota lain untuk dijadikan pengemis seperti banyak diberitakan selama ini? pikir Kardi. Namun dugaannya itu tidak berani ia ceritakan pada Rohayah karena takut istrinya itu akan semakin sedih. Akhirnya, Kardi dan keluarganya hanya bisa pasrah dan memohon petunjuk pada Allah.
Pada hari ke-6, penduduk Talang Atas, tetangga Kampung Pakuon, geger. Sobri, seorang pencari kayu bakar, menemukan Udin di hutan Sumur Putri. “Tadi saat lewat saya melihat ada anak kecil duduk telanjang di atas batu besar. Tapi sewaktu saya samperin, dia malah lari. Sepertinya dia ketakutan.”
Mendengar cerita Sobri, keluarga Kardi dan warga sekitar langsung menuju hutan Sumur Putri. Mereka berpencar untuk mencari Udin. Kardi terlihat sangat antusias karena kuat dugaan bocah kecil yang dilihat Sobri itu benar anak bungsunya.
“Woooiii…. Udin ada di sini,” teriak, Mamad, salah seorang penduduk yang ikut mencari. Seketika semua orang merubung ke tempat itu. Tampak Udin duduk seperti tengah melamun di atas sebuah batu besar. Ketika mengetahui banyak orang telah mengepung tempat duduknya, Udin berontak meski wajahnya menampakkan ketakutan yang luiar biasa.
Ketika Mamad mencoba meraih tangan Udin, anak itu spontan balik menyerangnya. Dia berusaha mencakar wajah Mamad sehingga Mamad lari ketakutan. Beberapa orang mencoba menangkapnya, namun masih belum berhasil karena Udin terus melawan dengan cakarnya. Gerakkannya mirip seekor monyet; lincah dan mengandalkan cakarnya sebagai senjata. Namun akhirnya Udin berhasil dilumpuhkan setelah secara serentak sejumlah orang termasuk Kardi, menangkap kedua tangannya. Udin lantas dibawa pulang.
Smapi di rumah, Rohayah hampir pingsan melihat kondisi anaknya. Keinginan untuk memeluknya, dipendam karena Udin masih terus berontak sehingga beberapa orang terpaksa memeganginya. Kardi kemudian memanggil Ustadz Ali. Oleh ustadz itu, Udin diruqiyah agar dirinya terbebas dari makhluk gaib. Lagi-lagi Udin mengerang seperti monyet dan berusaha menyerang Ustadz Ali. Namun Udin tidak berhasil menyerang Ustadz Ali karena kedua tangan dan kakinya masih dipegangi oleh beberap orang.
Setelah                 diruqiah, perlahan kesadaran Udin pulih. Dia mulai mengenali ibunya. Namun belum sempat Rohayah memeluk anaknya, Udin sudah keburu muntah. Yang mengejutkan, muntahannya berupa belatung yang sangat banyak.
“Alhamdulillah, kotorannya sudah keluar. Itulah yang membuat Udin tidak bisa bicara dan kehilangan kesadaran,” ujar Ustadz Ali.
Usai memuntahkan belatung, kondisi fisik Udin mendadak lemas. Tidak lama kemudian dia tertidur pulas. Esoknya Udin sudah kembali segar-bugar. Kepada keluarga dan tetangganya yang masih penasaran apa yang dialaminya selama 6 hari terakhir, Udin pun bercerita. Menurut Udin, setelah mandi di Kali Akar, ia naik ke tebing. “Tiba-tiba saja kaki saya seperti ada yang menarik. Saya mencoba melepaskan diri tetapi tidak kuat. Makhluk yang mencengkeram saya sangat kuat. Ketika saya menoleh ke belakang, saya terkejut sekali karena yang mendekap saya ternyata seekor monyet yang sangat besar,” ujar Udin.
Sebenarnya, kata Udin, sewaktu Badar memanggil-manggil namanya, Udin sempat mendengarnya. Namun dia tidak bisa menyahut karena mulutnya dibekap oleh monyet raksasa itu.  Setelah berhasil menguasainya, Udin lantas dibawa ke suatu tempat yang tidak dikenalinya. Di situ sudah banyak sekali monyet, ada yang sangat besar namun juga ada yang kecil.
“Namun monyet-monyet itu baik sekali pada saya. Mereka banyak member saya buah-buahan dan juga ikan segar. Saya juga diberi minuman yang rasanya agak asin dan hangat,” lanjut Udin.
Namun Udin tidak tahu mengapa kemudian dirinya ditemukan di hutan Sumur Putri yang jaraknya lumayan jauh dari Kali Akar. Sampai saat ini masyarakat setempat juga masih bingung apakah monyet itu asli atau monyet jadi-jadian yang merupakan penunggu Kali Akar. Rohayah sendiri enggan bertanya lebih jauh kepada Udin karena dia merasa sudah sangat senang anaknya bisa ditemukan dalam keadaan selamat.***     

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar